[Korea Fan Fiction] SHINee VS STARLIGHT (chapt. 4b) – SHINee & EXO

 shinee-vs-starlight

Credit Poster: http://sylvenclawimagination.wordpress.com/

*author pake 2 poster. utk awal-pertengahan pake posternya Fai 성 Minra*

.

   teaser >> chapt 1 >> chapt 2 >> chapt 3 >> chap 4a

 

.

Tittle :: SHINee VS STARLIGHT

Author :: Lee Hyona

Casts :: – SHINee member :  Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin

–          STARLIGHT member : Park Sungra, Park Hyeona, Han Hajoon, Kim Yoonhee, Jung Minhye

–          Teacher assistant : Cho Soorin (Cathrine), Lee Youngji (Haera), Choi Yoonji (Minharu) , Lee Hyona *numpang eksis, tapi ga banyak2 kok.

–          All EXO member

Other Casts :: Cari sendiri..

Leght :: series (5229 words)

Genre :: fantasy, Friendship, Action, mysteri, family, bit romance n sangat sedikit comedy (?)

Rating :: G

Disclaimer :: Ini FF adalah 100% hasil pemikiranku. Bila ada kesamaan ide, itu wajar. Namanya juga manusia (?)

Summary :: sekolah penyihir? Apa itu nyata?

Warning :: EYD seenak jidat author, bahasa berantakan, OOC, thypo(s)

Kawasan Wajib Coment!!

Silent Readers Dilarang Masuk!!

NO BASHING, PLEASE!!

**************************

Previous Chapter:

.           ‘Tidak salah lagi,’ batin Cathrine. Ia terdiam dengan ekspresi datar dan aura yang mencekam. Beberapa detik kemudian, ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kantin.

Chapter 4b:

.           “Sunbae mau kemana?” tanya Minhye agak berteriak. Namun Cathrine berubah menjadi sosok yang kasat mata.

.           “Tenang saja Minhye-ya, ia hanya ingin mencari Suho. Dia sudah memberitahuku,” sahut Luhan dan ditanggapi anggukan oleh Minhye.

.           Hyona yang sepertinya menangkap alasan yang sebenarnya, pamit pada penghuni satu meja dengannya dan ikut menghilang mengikuti Cathrine.

***

.           “Ternyata kau di sini.” Cathrine menoleh ke sumber suara. Ia mendapati bayangan transparan yang berangsur-angsur membentuk sosok yang dikenalinya. Hyona.

.           “Mau apa kau ke sini?” tanya Cathrine ketus. Ada yang penasaran di mana mereka berdua berada? Jawabanya, atap sekolah.

.           Hyona hanya tersenyum hambar lalu berjalan dan berdiri sejajar dengan Cathrine. “Kibum dan Hajoon. Mereka orang yang kau ceritakan padaku, kan?” Bukan menjawab, Hyona justru bertanya balik.

.           Cathrine yang sudah menangkap arah pembicaraan Hyona menyeringai. “Jadi, kau kemari hanya untuk membahas itu?”

.           “Menggagalkan terciptanya duplikat Kibum oppa. Unnie sengaja, kan?”

.           Cathrine memasukkan telapak tangannya ke saku seragam. “Kau tahu? Seharusnya aku biarkan saja duplikat Kibum tercipta. Kemungkinan mereka akan bertengkar.”

.           Yeoja yang lebih muda menarik napas berat. “Unnie, kejadiannya sudah tiga tahun yang lalu. Relakan saja dia. Biarkan dia bahagia bersama yeoja itu.”

.           “Aku menyesal pernah bercerita padamu, Lee Hyona.”

.           “Soorin unnie…”

.           “Jangan sebut nama itu. Soorin sudah mati tiga tahun yang lalu. Sekarang hanya ada Cathrine.” Kalimat Cathrine mengakhiri percakapan keduanya kerena Cathrine sudah menghilang. Hyona hanya bisa mendengus kesal dan sedikit frustasi.

.           “Hyona? Kau kah itu?”

.           Hyona menoleh dan mendapati namja yang bisa dipastikan beberapa tahun lebih tua darinya membuka pintu penghubung sekolah dengan atap. “Ah, Suho sonsengnim? Wae?”

.           Suho tersenyum lega. “Tidak usah terlalu formal, sebentar lagi kau juga menjadi guru. Panggil sunbae, ah, ani, oppa juga boleh.”

.           “Arrasso Suho oppa. Ngomong-ngomong, sedang apa son- oppa di sini?”

.           Suho berjalan mendekati Hyona. “Aku boleh minta tolong?” tanya Suho dan ditanggapi anggukan oleh Hyona, “tolong suruh yeoja bernama Kim Yoonhee menemuiku. Nanti sore, di sini.”

.           Senyuman mengembang di bibir Hyona. “Ok! Akan aku sampaikan.” Berangsur-angsur, senyumannya berubah menjadi ekspresi bingung. “Ngomong-ngomong, kenapa Suho oppa tidak ikut acara penyambutan dan sarapan bersama?”

.           Wakil kepala sekolah EXO Witch School mengusap tengkuknya canggung. “Aku kurang enak badan,” bohongnya. Bohong? Yeah, Suho sedang berbohong saat ini.

.           “Kalau begitu, aku panggilkan Lay oppa, ne? biar penyakit Suho oppa hilang.”

.           Suho buru-buru menahan Hyona. “Tidak perlu. Cukup panggilkan Yoonhee saja.”

.           Hyona mengangguk. “Arrasso. Oppa mau ikut ke kantin?” tawarnya.

.           Suho menggeleng. “Tidak perlu, aku di sini saja.”

.           “Jangan lama-lama, ne? Jangan sampai sakit. Anyyeong.” Dan, cling. Hyona menghilang.

***

At canteen

.           Cathrine menampakkan dirinya setelah memasuki kantin. Pandangannya lurus ke depan tetapi tidak terfokus pada satu objek pu. Dalam kata lain, pandangannya kosong.

.           ‘Apa maksudnya? Merelakannya? Takkan pernah. Yeoja itu yang merebut namja-ku. Kenapa aku yang harus merelakannya? Harusnya yeoja Jepang itu yang mengembalikan namja-ku! Kibum-ku!’

.           Bruk

.           Karena terlalu sibuk berargumen dengan pikirannya sendiri, Cathrine tidak memperhatikan yang ada di hadapannya. Hasilnya, ia menabrak seseorang. Tatapannya berubah menjadi tatapan laser nan menusuk. “Maaf, aku tidak melihatmu,” ujar sang penabrak yang tak lain adalah Kibum, “maaf, apa aku pernah mengenalmu sebelumnya? Maksudku, di luar dimensi ini.” Bukannya menjawab, Cathrine justru mempertajam tatapan menusuknya. “S…Soorin?”

.           “Aku bukan Soorin. Aku Cathrine,” sangkalnya.

.           Kibum menggeleng. “Kau pasti Cho Soorin. Aku ingat tatapan mata itu.”

.           Cathrine menggerakkan telunjuknya tegak lurus dengan leher Kibum. “Aku sudah bilang, namaku Cathrine. Kalau kau tetap memanggilku selain namaku, light blade-ku akan memotong lehermu.” Cathrine berjalan meninggalkan Kibum yang mematung.

.           Setelah Cathrine duduk dengan tenang, Hajoon mengajukan pertanyaan, “Cathrine sunbae, kau tadi bicara apa dengan Kibum?”

.           “Hanya memberi shock terapi,” jawabnya singkat, “aku belum menemukan Suho sonsengnim, Baekhyun sonsengnim.” Semua mata pun tertuju pada Baekhyun.

.           Baekhyun sedikit terkejut karena pertanyaan yang bahkan belum diajukan sudah dijawab. “Oh, begitu.”

.           “Aku sudah menemuinya.” Hyona muncul begitu saja di sebelah Cathrine. “Suho sonsengnim sedang tidak ingin diganggu. Beliau bilang begitu.” Hanya kubu para guru saja yang menanggapi Hyona dengan ber-oh-ria. “Ok, di antara kalian, siapa yang bernama Yoonhee?” penghuni meja 3 menunjuk ke arah Yoonhee yang dilanda bosan. “Yoonhee, nanti sore, temui Suho sonsengnim di atap sekolah.”

.           Yoonhee menyerengit. “Wae?”

.           Hyona hanya mengangkat bahu. “Molla. Aku hanya menyampaikan itu. Sampai jumpa.” Hyona berangsur-angsur menghilang dan muncul kembali di tempat awalnya.

.           “Apa dia hantu?” celetuk Minhye.

.           “She is a real phantom,” jawab Hyeona asal. “Semoga aku dapat nama penyihir. Nama asliku dan dia mirip.”

.           Minharu menyikut lengan Cathrine perlahan. Mengerti kode yang diberikan, Cathrine langsung masuk ke pikiran Minharu. “Wae, unnie?”

.           “Kenapa Suho sonsengnim mencarinya?”

.           “Molla.”

.           “Apa kau tidak bisa membaca pikiran Hyona?”

.           Cathrine melirik ke arah Hyona sekilas. “Dia benar-benar tidak tahu.”

.           “Baiklah, nanti aku cari tahu sendiri. Sekarang, pergi dari pikiranku!”

.           “Tch, tukang perintah.”

***

First table

.           “Kau kemana saja? Lama sekali,” protes Haera.

.           “Ak–”

.           PYAAR

.           Perkataan Hyona terpotong oleh suara gelas pecah. Benar saja. Gesal Minho tiba-tiba saja pecah dan membuatnya menjadi pusat perhatian. “K…kau kenapa, hyung?” tanya Taemin, agak ketakutan. Minho hanya menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari luka gores di tangannya.

.           Lay yang menyadari ada muridnya yang terluka, segera berlari menuju tempat Minho. “Minho-ya, apa yang terjadi? Kenapa gelasmu bisa pecah?” tanyanya tanpa mengalihkan konsenterasi pada tangannya yang sibuk mengobati luka Minho.

.           “Aku juga tidak tahu, Lay sonsengnim.”

.           Lay tiba-tiba merasakan ada hal yang tidak beres di tubuhnya. Tangannya mendadak kaku. Badannya  semakin lama semakin panas. Kepalanya mengeluarkan banyak keringat. Kakinya tidak bisa digerakkan.

.           “Minho! Kendalikan kekuatanmu! Kau bisa membunuhnya!” titah Kris.

.           Minho bingung bukan main. “A…aku tidak bisa…”

.           Melihat Lay yang semakin lama terlihat seperti orang kerasukan, Tao teringat sesuatu. “Chanyeol ge! Buat Minho fokus padamu!”

.           Setelah mendengar perintah Tao, Chanyeol segera berlari dan berhadapan dengan Minho. “Ayo, fokuskan pikiranmu padaku!” Minho menurut. Lama kelamaan, Lay kembali normal dan sang healer ambruk setelah lepas dari pengaruh Minho.

.           “Hyung!” pekik Chanyeol. Ia mencoba membantu Lay berdiri.

.           Di saat semua wajah khawatir, Lay malah terlihat menahan tawa. “Wah~ yang tadi cukup menegangkan, Choi Minho-ssi. Fyuh~ aku kira, aku benar-benar akan mati.”

.           “Lay hyung, gwenchana?” tanya Baekhyun.

.           Lay tersenyum tipis. “Ne, aku baik-baik saja. Aku kan healer, bisa menyembuhkan diri sendiri,” candanya, tapi memang itu faktanya.

.           “Tapi, kenapa Tao menyuruh Chanyeol mengalihkan perhatian Minho?” tanya Chen.

.           Tao tersenyum ceria. “Karena aku ingat, mendiang Choi Siwon sonsengnim memiliki kekuatan yang sama dengan gejala kekuatan Minho-ssi. Dan kekuatan Siwon sonsengnim tidak ampuh pada Heechul sonsengnim yang memiliki elemen api yang sama seperti Chanyeol ge.”

.           “Hei, marga Minho-ssi dan Siwon sonsengnim sama. Apa kalian saling mengenal?” tanya D.O seraya menunjuk salah satu foto berbingkai di dinding kantin.

.           Mata Minho membulat setelah melihat foto yang dimaksud D.O. “S…Siwon hyung? Dia… dia kakakku, yang menghilang selama 3 tahun dan ditemukan sudah tidak bernyawa.”

.           Kai berteleportasi dan muncul di belakang Minho. Ia menepuk-nepuk bahu namja yang lebih tua beberapa tahun darinya, berbagi ketegaran. “Aku turut berduka. Kau tahu? Hyung-mu adalah salah satu guru terhebat di sini.” Minho hanya tersenyum tipis mendengar pujian dan hiburan dari Kai.

.           “Maaf mengganggu, dengan terjadinya hal seperti ini, apa sebaiknya pelatihan dipercepat?” usul Minharu.

.           Haera mengangguk. “Akan berbahaya jika pelatihan tidak dilakukan secepatnya. Kekuatan mereka akan berkembang tanpa bisa dikendalikan sang pemilik.”

.           Kris terlihat berpikir sejenak. “Baiklah, pelatihan akan dimulai hari ini. Dan materinya, hanya pengidentifikasi potensi elemen kalian. 30 menit lagi, aku harap semua sudah berkumpul di aula. Suho masuk pengecualian. Satu hal, aku benci menunggu.”

***

EXO W.S. hall

.           Aula milik EXO Witch School lebih mirip stadion daripada aula pada umumnya. Para guru dan senior berdiri di tengah-tengah aula, sedangkan murid-murid duduk di kursi yang disediakan.

.           Baekhyun mengambil tempat lebih maju daripada guru-guru lain. “Baik, kali ini aku yang menjadi juru bicara. Annyeong haseo, Byun Baekhyun imnida.”

.           “To the point saja,” potong Kris.

.           Guru pemilik elemen light menggembungkan pipinya kesal. “Arra arra. Jadi, seperti yang bisa kalian lihat, di sini ada 12 tempat…”

.           kriik kriiik

.           Hening. Para audience mengamati tiap sudut ruangan dan tidak menemukan tempat yang dimaksud Baekhyun. Baekhyun ikut bingung. “Loh? D.O, tempatnya mana?” D.O tidak merespon, ia sibuk mengobrol dengan Kai. “Ehm, D.O?” Tetap tidak ada respon. “Yack! DO KYUNGSOO!!!”

.           “Ne, hyung?” tanya D.O dengan wajah polosnya.

.           “Kau mau aku menyerangmu dengan sun gun-ku, eoh? Ke-12 tempat itu mana?!”

.           “Omo! Aku lupa!” pekik D.O. sang earth controller menghentakkan kaki kanannya cukup kuat. Tanah aula bergetar, tiba-tiba muncul 12 benda semacam tabung berdiameter sekitar 20 cm yang terbuat dari batu dari permukaan tanah. Membentuk pola seperti jam lingkaran raksasa dengan tabung-tabung sebagai penunjuk titik angka 1 sampai 12 dan Baekhyun sendiri sebagai titik pusatnya.

.           Baekhyun melotot sekilas ke arah D.O lalu kembali fokus pada murid-murid. “Baik, ini adalah ke-12 tempat yang aku maksudkan. Sebut saja pilar. Nanti, masing-masing guru akan meletakkan lambang elemen pada permukaan datar pilar ini. Dan kalian satu per satu berdiri di tempatku berdiri sekarang. Sampai di sini, kalian mengerti?”

.           Hyeona mengangkat tangan. “Bagaimana caranya kami bisa mengenali potensi elemen kami?”

.           Baekhyun tersenyum. “Lebih baik dijelaskan sambil melakukan ilustrasi. Ok, perhatikan baik-baik.” Baekhyun dan guru-guru lain berjalan ke arah pilar yang berbeda. Kemudian, mereka bersebelas meletakkan logo elemen masing-masing di atas permukaan pilar di hadapan mereka –kecuali Xiumin yang juga meletakkan milik Suho. Ajaib, ke-12 logo elemen melayang dan tidak terpengaruh oleh gravitasi. “Untuk penjelasan selanjutnya, aku serahkan pada Kai.”

.           Kai melirik ke barisan senior. “Haera-ya…” Haera mengangguk dan berjalan ke arah titik pusat lingkaran. “Kalian semua, perhatikan baik-baik,” titah Kai.

.           Ke-10 pasang mata mengangguk mengerti. Kling, cincin elemen petir milik Chen memancarkan cahaya yang menyilaukan. “Ini berarti dia memiliki elemen petir,” lanjut sang teleporter.

.           “Mau lihat?” tawar Haera. Tanpa menunggu jawaban, ia mengarahkan telapak tangannya ke audience. Blzzt, petir bersumber dari tangan Haera melesat ke sepuluh orang yang masih belum mengerti tentang kekuatan masing-masing.

.           Blzzt, BLAAR.

.           Petir kembali menyambar. Namun bukan dari Haera, melainkan Chen. Membuat petir mereka bertemu di satu titik beberapa meter di depan para newbie dan terciptalah ledakan. “Haera, kita sudah bicara soal bermain-main dengan kekuatan tanpa tujuan, kan?” tanya Chen. Haera hanya nyengir kuda dan mengacungkan kedua jarinya membentuk simbol ‘v’ lalu kembali ke barisan asalnya.

.           Minhye mnengacungkan tangan. “Cara itu kan hanya mendeteksi berdasarkan elemen yang ada. Bagaimana jika salah satu dari kami memiliki potensi elemen di luar 12 elemen itu?”

.           Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya, aku sedikit bingung dengan kalimatmmu. Tapi aku bisa menangkap intinya. Hyona-ya, giliranmu.” Hyona berdiri di pusat lingkaran, menggantikan Haera. Kling, logo elemen milik Kai, Luhan, dan Kris mengeluarkan cahaya. “Xiumin hyung, your turn.”

.           Guru pemilik pipi ter-chubby berpikir sejenak, lalu memulai penjelasan, “Seperti yang beberapa dari kalian ketahui, elemen Hyona adalah phantom. Dan dari kami ber-12, tidak ada yang memiliki elemen phantom. Lalu, kenapa logo milik Kris, Luhan, dan Kai menyala? Jika diamati, cahaya ketiga elemen ini lebih redup daripada cahaya yang dipancarkan scorpion milik Chen. Ini menandakan elemen milik Hyona berkaitan dengan flight, telepathy, dan teleportation.”

.           Kini giliran Hajoon mengacungkan tangan. “Boleh dimulai sekarang? Aku sudah penasaran.”

.           Xiumin tersenyum. “Boleh saja. Setelah potensi elemen kalian terdeteksi, kalian akan melakukan demonstrasi awal kekuatan kalian masing-masing.”

.           Jinki mendapat giliran pertama. 10 detik awal, belum ada reaksi dari salah satu elemen. Menginjak detik ke-11, timbul aura merah mengerikan dari logo unicorn milik Lay.

.           Lay menatap bros logo unicorn-nya tak percaya. “Wow, aku punya lawan berat di sini.” Jinki hanya menyeringai.

.           Sungra yang dilanda kebingungan berbisik pada Yoonhee di sebelahnya, “Apa maksudnya, unnie?”

.           Tangan kanan Yoonhee beralih menyanggah kepalanya dengn tatapan masih terfokus pada area investigasi. “Kau lihat aura merah itu?” Sungra mengangguk. “Aura merah itu menandakan namja itu memiliki potensi yang merupakan lawan dari elemen Lay sonsengnim.”

.           Sekarang giliran Jonghyun. Lagi-lagi aura merah berpendar dari logo unicorn Lay. “Satu orang lagi, destroyer,” cibir Sehun.

.           “Destroyer?” tanya Hajoon, ‘apa Kibum oppa juga penghancur?”

.           “Kim Kibum-ssi, giliranmu,” ucap Luhan.

.           Kibum menurut. Ia mulai berjalan ke arah pusat lingkaran. Xiumin menghela napas berat, membuat Kibum menoleh ke arahnya. “Kim Kibum.”

.           “Ne? Apa ada yang salah, sonsengnim?”

.           Xiumin menggeleng. “Ani. Hanya saja, namamu sama persis dengan guru pemilik elemen frost sebelumnya.” Kibum hanya mengangguk mengerti.

.           Tak lama, aura merah mengerikan lagi-lagi berpendar dari logo unicorn Lay. Selain logo milik Lay, logo telepathy Luhan bersinar redup. “Lagi-lagi destroyer,” keluh Lay.

.           ‘Apa itu hal yang buruk?’ batin Hajoon.

.           “Apa itu hal yang buruk?” Seolah terhubung, Kibum juga menanyakan hal yang sama.

.           “Tenang saja, destroyer bisa bermanfaat untuk penyerangan,” sahut Chen.

.           “Membela diri. Petir kan juga destroyer,” sindir Sehun dan langsung mendapat deheman dari dua pihak lightning.

.           Minho mendapat giliran berikutnya. Sudah bisa ditebak, ia juga destroyer. Selain reaksi unicorn dari Lay, logo flame, telepathy, dan earth menyala redup. Tapi berangsur-angsur, cahaya redup dari logo elemen flame padam dan digantikan oleh aura merah mencekam.

.           Lagi-lagi Sungra yang kebingungan bertanya pada Yoonhee, “Kalau reaksi dari elemen Chanyeol sonsengnim maksudnya apa?”

.           “Itu artinya, potensi Choi Minho berkaitan dengan flame tapi sekaligus lawan dari flame.”

.           Kepala Sungra terangguk paham. “Yoonhee unnie hebat ya, bisa tahu banyak hal.”

.           “Kau pikir aku Yoonhee?” Sungra terbelalak kaget mendengarnya. Mata ‘Yoonhee’ tiba-tiba berubah menjadi hijau terang nan mengintimidasi. Sungra hanya menatapnya tak percaya.

.           “Aku terlambat ya?”tanya seseorang. Kepala Sungra menoleh ke sumber suara. Ia menemukan Yoonhee baru memasuki aula.

.           “Loh?” Kebingungan Sungra makin bertambah. Dilihatnya kembali tempat duduk di sebelahnya. Kosong. Sosok yang serupa dengan Yoonhee menghilang. “Eh, yang itu tadi siapa?”

.           Dari kejauhan, seseorang berdecak kesal. ‘Tch, sayang sekali. Jiwanya terlalu murni. Tidak terlalu berpengaruh pada kegelapan.’ Bisa menebak siapa dia?

.           Kembali ke acara utama, mata lebar D.O menatap Taemin. “Giliranmu.”

.           Dengan keraguan yang menghantui, Taemin melangkahkan kaki menuju titik pusat lingkaran. Ia terdiam, berharap mendapatkan elemen yang tidak ada sangkut pautnya dengan destroyer.

.           Ternyata, takdir berkata lain. Logo healing milik Lay memancarkan aura merah mencekam, sama seperti sebelum-sebelumnya. Selain itu, elemen teleportasi milik Kai juga bereaksi. Memancarkan cahaya putih, namun redup. “Sudah tahu artinya, kan?” pasti Kai. Taemin hanya mengangguk lemah. Ia pun melangkah kembali ke tempat duduknya.

.           “Girls’! your turn!!” seru Chanyeol ala happy virus-nya.

.           “Jangan sok inggris,” timpal semua guru dan senior. Sementara ke-10 murid ber-sweat dropped ria.

.           Hyeona mendapat giliran pertama. Tak perlu menunggu lama, 5 detik sudah muncul reaksi. Logo elemen air milik Suho menyala terang. Ia tersenyum lega. “Air? Tidak buruk.”

.           “Next!” titah Chanyeol dengan wajah khasnya saat bercanda. Kai langsung berteleportasi di belakang Chanyeol dan menjitak kepala namja yang lebih tua darinya itu. “Ya! Kkamjong!” seru pemilik elemen flame tak terima.

.           “Tidak bisakah sedikit serius, hyung?”

.           “Tidak bisa! Dan kau tahu sendiri.”

.           “Kai hyung, Chanyeol hyung memang hiperaktif. Biarkan saja,” tutur Sehun mengingatkan –menyindir.

.           Kris yang mulai pusing dengan keributan membahas tentang ke-hyperactive-an Chanyeol angkat bicara, “Sehun, diam. Kai, kembali ke tempatmu. Chanyeol, belajarlah serius walau sedikit.” Ucapan kepala sekolah yang berarti aturan membuat tiga namja yang tadinya berdebat terdiam.

.           Kondisi kembali terkendali. Mereka pun melanjutkan acara pendeteksian elemen. Hajoon mendapat giliran kedua. Sama seperti Hyeona, tidak perlu menunggu lama untuk melihat hasil. Kali ini reaksi muncul dari elemen lightning Chen, membuat pemiliknya bersorak kegirangan.

.           “Yes! Lightning punya penerus!” Dan, duk! Sebuah kerikil yang tidak bisa dibilang kecil mendarat dengan indahnya di kepala Chen. “D.O!”

.           Namja bermata bulat hanya menatap polos ke arah Chen dengan jari-jari yang masih memainkan beberapa kerikil. “Ne, hyung? Wae?

.           “Aissh, neo…” Chen tidak berani meneruskan karena Kris sudah menatap mereka tajam.

.           Kembali ke topik awal. Kali ini Yoonhee yang berdiri di pusat pola. Sepertinya, ia mendapat rekor waktu tercepat. Ia baru menginjakkan kaki di pusat lingkaran, elemen flame Chanyeol sudah menyala terang.

.           “Ckckck, phoniex benar-benar peka,” puji Chanyeol pada elemennya sendiri.

.           Yoonhee hanya memutar mata malas dan berjalan ke tempatnya semula. ‘Baguslah, aku tidak perlu membuang waktu terlalu panjang.”

.           Dan tanpa seorang pun sadari, ada sepasang mata yang tidak bosan-bosannya memperhatikan gerak-gerik Yoonhee dari kejauhan. Bibir dari pemilik sepasang mata tersebut melengkung, membentuk senyuman yang menyimpan jutaan kerinduan.

.           “Miss Jung,” panggil Kris.

.           Spontan semua orang menatap satu-satunya yeoja yang bermarga ‘Jung’, Minhye. Namun yang ditatap malah bingung sendiri. “Aku?” Dan, GUBRAK!!

.           “Memangnya disini ada berapa Jung, noona?” tanya –sindir Tao.

.           Dzing, muncul perempatan kecil di kepala Minhye. “Ya! Kenapa kau memanggilku noona?! Aku dua tahun lebih muda darimu, manusia panda!”

.           Jleb. Tao yang pada dasarnya belum pernah dibentak siapapun merasa siyok. Eh, syok maksudnya. Matanya mulai berkaca-kaca, dan… “Hwee~ aku bukan manusia panda TT^TT.”

.           Melihat Tao menangis bak anak kecil, terbesit rasa bersalah di pikirannya. Harus diakui, ia sedikit sensitif jika orang lain mengira ia lebih tua dari usianya yang seharusnya. “Mianhe, a…aku tidak bermaksud…” –Tapi ia juga tidak tega menyakiti perasaan orang lain. Dan sekarang, Tao masih sesenggukan, membuat Minhye makin merasa bersalah.

.           Beberapa guru, sebut saja trio usil (Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun) mendapat ilham untuk beraksi.

.           Baekhyun meluncurkan aksi pertama. “Hei, Jung Minhye. Apa kau tahu? Kalau Tao menangis, akan susah berhenti.”

.           Chanyeol pun meng-iya-kan pernyataan kawan seperjuangannya. Ia juga menambahkan, “Dan Tao biasanya langsung drop setelah menangis.”

.           Minhye bingung bukan main –tidak merasa jika dirinya kini tengah dikerjai -.- “Lalu, aku harus bagaimana?”

.           Sehun mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. “Kau tahu apa yang membuatnya berhenti menangis?” Minhye menggeleng. Sehun melanjutkan sambil menyeringai setan dan sesekali menggerakkan angin dingin, membuat ‘korban’ makin ketakutan. “Belikan dia… boneka panda seukuran manusia dan borong semua isi Gucci store untuknya.”

.           “APA?! Kau gila, sonsengnim?” ceplos Minhye asal.

.           “Tenang saja Miss Jung. Mereka hanya bercanda. Benar begitu kan, Tao?” potong Kris.

.           Tao terlihat kembali ke ekspresi sebelumnya, penuh senyum dan ceria. “Ne, Tao baik-baik saja ^^.”

.           “See? Sekarang giliranmu,” lanjut Kris.

.           “Err, duizhang, sepertinya tidak perlu,” interupsi Xiumin. Semua menatapnya bingung. Sedangkan yang ditatap hanya menunjuk logo elemennya sendiri. “Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri juga tidak tahu.”

.           Minhye ikut-ikutan menunjuk logo frost Xiumin. “Kapan itu menyala?”

.           “Tepat saat anda berteriak, Miss Jung.”

.           Minhye mengangguk kikuk. Dan kini Sungra yang berjalan ke tengah pola lingkaran. Ketika ia berjalan, semua baik-baik saja. Tiba-tiba…

.           “ARGH!!” Lay berteriak dan sukses membuat seisi aula terkejut. Tubuhnya merosot ke bawah, ke-10 jari-jarinya mencengkram kuat rambut halusnya, mencerminkan betapa parah sakit yang ia rasakan.

.           Semua orang panik. Sosok yang asik memperhatikan tiap peristiwa di dalam aula dari kejauhan juga ikut panik. Logo unicorn terlihat memancarkan aura merah kehitaman.

.           Baekhyun membulatkan matanya. “Kadar penghancurnnya di atas ambang rata-rata penyihir yeoja lain. Itu berarti…”

.           “L…Lay sonsengnim, gwencha−”

.           “Sungra-ya! Mundur! Jangan dekati Lay!” Sungra cepat-cepat mundur setelah mendengar perintah Baekhyun.

.           Setelah Sungra berada pada radius aman, Baekhyun memakai kembali logo elemannya –berupa gelang lalu berlari secepat mungkin ke Lay. Sang ‘cahaya’ EXOplanet mengambil emblem unicorn dan meminta Lay untuk menggenggamnya. Senebtara kedua tangan Baekhyun mencoba mentransfer tenaga ke Lay.

.           Dirasa cukup, Baekhyun berhenti. Lima detik berlalu, rasa sakit Lay berkurang sedikit demi sedikit dengan napas yang kacau. Tidak ada yang bergerak. Semua terlalu terkejut dengan insiden barusan. Terutama Sungra, ia terlihat pucat bak mayat hidup.

.           “Hhh… g…gomawo Baekhyun.”

.           “Lay hyung, gwenchana?” tanya Baekhyun panik. Lay mengangguk sebagai jawaban.

.           Kaki Sungra melemas seketika. Pikirannya campur aduk. Shock dan takut. “A…apa yang sudah kulakukan?”

.           Luhan –guru yang pertama tersadar– berlari kecil menuju Lay.  “Apa ada yang luka?” yang ditanya hanya menggeleng. “Hah, kau membuat kami panik, Lay. Dua kali kau hampir terbunuh oleh muridmu sendiri.”

.           Lay hanya tersenyum sambil berusaha berdiri. “Mungkin turunan dari healer sebelumnya, ge. Dulu Sungmin sonsengnim hampir terbunuh oleh phoniex-nya Chanyeol, tornadonya Sehun, dan telekinesismu sendiri, ge. Ingat?”

.           “Tadi Lay sonsengnim kenapa?” Sebuah pertanyaan polos keluar dari bibir Lee Taemin.

.           “Well, aku tadi kesakitan dan itu karena aura racunmu terlalu kuat, Park Sungra-ssi.”

.           Sungra kaget bukan main. “Racun? Itu berarti…”

.           “Kau destroyer. Levelmu sedikit lebih tinggi dari namjadeul. Tapi Onew-ssi selevel denganmu,” jelas Kris, “peristiwa ini tergolong langka di kalangan yeoja. Kau harus berhati-hati.”

.           Semua terdiam. Bahkan beberapa dari mereka menatap Sungra dengan tatapan ‘Separah-itu-kah?’

.           “Ehm,” deheman Xiumin membuat semua melihatnya, “karena semua sudah tahu potensi elemen masing-masing, ayo lakukan demonstrasi.” Ia menoleh ke D.O, D.O mengangguk mengerti.

.           Sang earth controller menghentakkan kakinya, ke-12 pilar tadi kembali masuk ke tanah –seteleh ke-12 elemen diambil tentunya. Ia bersama sepuluh guru lain mundur beberapa langkah sehingga terciptalah jarak cukup jauh antara guru dan murid, sementara para senior mendampingi adik kelas masing-masing. Luhan merentangkan kedua tangannya ke depan, dan terciptalah kubah perisai transparan raksasa di depannya.

.           “Lee Jinki, kau duluan,” titah Luhan.

.           Jinki mengangguk paham lalu berjalan memasuki kubah. Beberapa detik kemudian, muncul sosok seseorang yang sama sekali tidak dikenal berdiri beberapa meter di depannya. “Sonsengnim, siapa dia?”

.           “Dia hanya ‘boneka hidup’. Kau destroyer. Kami ingin menguji kemampuanmu lewat tes ini,” jelas Kris, “selesai tahap ini, kartu identitas kalian akan muncul.”

.           Semua murid mengangguk paham. Jinki mulai mengonsentrasikan pikirannya. Tak lama, angin lembut nan menenangkan berhembus di dalam kubah. Sangat menenangkan hingga membuat siapa pun ingin menghirupnya. Tak terkecuali, sang boneka.

.           “Uhuk, uhuk. ARKGH!!” teriakan sang boneka membuat semua terfokus padanya. Boneka itu mengeluarkan banyak darah dari mata, hidung, telinga, dan mulutnya. Tubuhnya berguling ke sana kemari, mencerminkan rasa sakit yang teramat sangat. Genap satu menit Jinki melancarkan aksinya, boneka itu terkapar tak berdaya dengan posisi mengenaskan.

.           Cathrine melempar selembar kartu dan langsung di tangkap oleh Lay. Lay pun membaca isi dari kartu itu.

Real name : Lee Jinki

Nickname : Onew

D.O.B : December 14, 1989

Type : Destroyer – attacker

Speciality : memunculkan angin mengandung ‘micro monster tofu’ yang dapat menggerogoti organ dalam musuh

.           Lay meletakkan kartu itu di dalam sebuah map –yang entah sejak kapan– ada di depannya. “Destroyer tipe penyerang dengan kekuatan yang cukup mengerikan, Onew-ssi. Dan biar kutebak, kau sudah tahu tentang kekuatanmu dari dulu, benar?” Jinki hanya menanggapi pertanyaan gurunya dengan tersenyum tipis.

.           Mereka semua tidak menyadari, ada seseorang di antara ‘penonton’ mengepalkan tangannya erat-erat dengan bibir yang tak henti-hentinya bergumam ‘Pembunuh’.

.           Kini Jonghyun yang menggantikan posisi Jinki. Berbeda dengan Jinki yang sudah tahu apa yang harus dilakukan, Jonghyun terlihat bingung sendiri dengan boneka hidup di hadapannya. ‘Apa yang harus kulakukan,’ pikirnya. Iseng-iseng, ia mulai menyanyikan sebuah lagu bervolume rendah dengan mata yang terfokus pada ‘calon korban’. Bukannya membuat boneka tersiksa, Jonghyun justru membuatnya nyaman dengan lagu yang dilantunkannya.

.           “Cara yang aneh,” cibir Haera dan Hyona tidak segan-segan menyikut lengan patnernya.

.           Kembali ke Jonghyun. Namja tersebut masih melanjutkan kegiatannya, bersenandung dengan mata terfokus pada boneka. Semua pasang mata di sana membulat melihat cairan kental merah pekat keluar dari telinga sang boneka. Jonghyun yang mulai mengerti kekuatannya, melanjutkan nyanyiannya. Si boneka mulai gelisah, sampai akhirnya…

.           BLAAR, boneka itu meledak, hancur menjadi serpihan kecil.

.           “Sadis,” itulah kata yang keluar dari beberapa mulut di sana.

.           “Cath,” panggil Baekhyun. Cathrine mengangguk lalu melemparkan kartu pada Baekhyun. Sama seperti yang dilakukan Lay, Baekhyun membaca isi kartu tersebut.

Real name : Kim Jonghyun

Nickname : –

D.O.B : April 8, 1990

Type : Destroyer – attacker

Speciality : mengacaukan aliran darah dan kontrol atas diri lawan lewat lagu

.           Baekhyun menghela napas. “Peringatan untukmu, Jonghyun-ssi. Jangan fokuskan matamu pada seseorang saat bernyanyi jika bukan dalam kondiri bertarung. Atau kau akan membunuh orang itu.”

.           “Aku mengerti, sonsengnim.”

.           Kibum yang mendapat giliran berikutnya. Satu boneka hidup muncul lagi di dalam kubah, tepat lima meter di hadapannya. Namjachingu Hajoon itu menutup mata, mencoba berkonsentrasi semaksimal mungkin. Ketika ia membuka mata, dua manik obsidian Kibum kini digantikan oleh warna ungu pucat yang menambah kesan ‘dingin’ pada wajahnya. Semua yang melihat terkejut ketika Kibum dan sang boneka menghilang tanpa suara.

.           “Itu… teleportasi?” tanya Chanyeol.

.           “Bukan.” Satu kata mutlak dari Luhan membuat situasi hening kembali. “Dia, membuat dimensinya sendiri.”

.           “Mwo?”

.           Belum hilang keterkejutan mereka, Kibum tiba-tiba muncul bersama boneka di hadapannya. Kondisi Kibum tidak berbeda  dari sebelum ia menghilang. Namun sang boneka terkapar tak berdaya dengan luka mirip cakaran dan beberapa kulit mengelupas. Oh, jangan lupakan darah segar yang terus menerus mengucur dari lukanya.

.           Bruk, Kibum jatuh terduduk. Ia terlihat mencoba menstabilkan deru napasnya yang kacau. Ketika namja bermarga Kim itu mendongak, kedua mata obsidian miliknya kembali lagi. “Ada apa denganku?”

.           “Kibum-ah, apa kau ingat sesuatu? Kejadian beberapa detik yang lalu?” tanya Luhan penasaran.

.           Kibum menjoba menjelajahi kembali ingatannya. “Aku, di suatu tempat, boneka itu juga ada di sana. Di sekelilingnya ada benda-benda, kenyal –mungkin. Yah, mirip jeli kurang-lebih. Benda itu menempel di boneka. Boneka itu berteriak, dan aku tidak ingat lagi.”

.           “KIM KIBUM!” Kibum terkesiap. Bukan karena D.O meneriakkan namanya. Melainkan karena sebuah batu yang tidak bisa dibilang kecil meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Entah refleks atau apa, jari-jari Kibum bergerak seakan membelah batu besar di hadapannya.

.           “OPPA!!!” teriak Hajoon.

.           BLAM, batu super besar itu akhirnya mendarat di tanah.

.           “Tidak salah lagi.”

.           “D.O sonsengnim! Kenapa sonsengnim mendadak menyerangku?! Kalau aku kena bagaimana? Kalau aku mati bagaimana? Bagaimana? Bagaimana!” (>,<)P

.           “Tapi kau belum mati, kan?” O_O

.           “Sekarang sih belum. Tapi, eh? Batunya pecah? Siapa yang membelahnya?”

.           “Kim Kibum, this is your  identification card,” ujar Kai yang sudah mengambil alih kartu identitas dari Cathrine.

Real name : Kim Kibum

Nickname : Key

D.O.B : September 23, 1991

Type : Destroyer – attacker

Speciality : memiliki dimensi tersendiri di mana ada ‘flaming jelly’ yang dapat membakar tubuh lawan. Memiliki jarum kasat mata super tajam di ujung jemarinya

.           “J… jarum?”

.           “Aku rasa buktinya sudah cukup jelas, Key-ssi,” ujar Kai seraya menunjuk batu yang terbelah menjadi beberapa bagian. Sedangkan Kibum menatap kesepuluh jemarinya tak percaya.

.           Kini Minho yang mendapat giliran diinvestigasi. Sebuah boneka hidup berdiri beberapa meter di depannya. Keingin tahuan yang besar, menimbulkan semangat bertarung cukup berkobar. Ketika ia melangkahkan kaki, tanah yang dipijak retak seiring derap sepatunya. Ia terlihat terlalu santai untuk kadar bertarung. Boneka sudah di depan, tapi ia malah melewatinya.

.           “Apa maksudnya? Ia menyerah?”

.           Di luar dugaan, Minho menggigit ibu jarinya hingga berdarah, mencipratkan cairan kental itu pada sang boneka. Perlahan, boneka itu memutar kepala, berhadapan dengan Minho. Gerakannya terlihat kaku bak mesin berkarat. Gejala yang dialami Lay saat di kantin, terulang pada boneka tersebut. Wuzh, api muncul dari puncak kepala boneka, membakarnya. Hanya dalam waktu se-per-sekian detik, tubuh bagian atas boneka lenyap, hangus tak tersisa.

.           “Lay menelan berat saliva-nya. “Tao, Chanyeol, gomawo sudah menyelamatkanku.”

.           “Cheon ge / hyung,” jawab Chanyeol dan Tao bersamaan. Mereka berdua bergidik ngeri membayangkan setengah tubuh Lay hangus terbakar.

.           Sehun bertepuk tangan –dengan ekspresi datarnya. “Cukup bagus. Menggunakan kekuatan dengan darah sebagai media, sama seperti saat di kantin. Pemikiran cerdik.”

.           “Aku harap itu sebuah pujian, sonsengnim.”

.           Sehun hanya mengangkat bahunya acuh. Ia pun mulai membacakan kartu identitas Minho.

Real name : Choi Minho

Nickname : –

D.O.B : December 9, 1991

Type : Destroyer – attacker

Speciality : barang pecah belah dan tanah akan retak atau pecah jika sedang badmood. Dapat mengendalikan diri lawan lewat tatapan mata atau media darah. Setengah tubuh korban akan terbakar jika terlalu lama dalam kendalinya

.           Usai Sehun membaca kartu identitas Minho, Taemin langsung berlari memasuki kubah perisai, padahal Minho masih di dalam. Minho hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.

.           Satu boneka lagi muncul di dalam kubah. Taemin yang semula antusias kini kebingungan. “Hyungdeul, bagaimana caranya?” Sedangkan yang ditanya hanya angkat bahu.

.           “Tentu saja konsentrasi, dasar anak kecil.”

.           Taemin cemberut mendengar sindiran yang sangat ia kenali sumber suaranya. Siapa lagi kalau bukan rival barunya, Jung Minhye. “Kau bilang aku anak kecil, tapi kau sendiri lebih kecil. Dasar anak kecil.”

.           Setelah puas melampiaskan kekesalan-kekesalan lewat gumaman kecil yang hanya bisa ia pahami sendiri, Taemin mulai berkonsentrasi. Perlahan, kedua matanya terpejam. Kepalanya mendongak, seolah mencoba membebaskan kekuatan yang terkunci. Kelopak matanya terbuka tiba-tiba, menampilkan warna iris merah darah dengan pupil kucing di tengahnya, membuat Taemin lebih mirip… vampir?

.           Bukan sampai di situ saja. Taemin berlari ke arah boneka. Hanya dalam waktu se-per sekian detik, boneka itu terpental ke udara. Ternyata Taemin menendangnya. Cukup tidak masuk akal mengingat Taemin dan boneka terpaut jarak cukup jauh. Sebelum boneka itu mendarat, Taemin sudah muncul di belakangnya dan menendangnya kembali. Lagi-lagi, perpindahan Taemin tidak tertangkap mata biasa. Ia melancarkan aksinnya hingga boneka hidup itu tewas. Bruk, namja itu jatuh terduduk setelahnya.

.           Setelah beberapa saat, Taemin tersadar. Ia terlihat kebingungan dan terus memegangi kepalanya. “Pusing,” gumamnya. Tao yang sudah menerima kartu dari Cathrine langsung membacakan isinya.

Real name : Lee Taemin

Nickname : –

D.O.B : July 18, 1993

Type : Destroyer – attacker

Speciality : tubuhnya dapat mengalami perpindahan sangat cepat, tapi bukan teleportasi. Menyerang dengan kekuatan fisik, terutama menggunakan kaki

.           Giliran newbie yeoja untuk menunjukkan kekuatan kekuatan mereka. Dimulai dari Minhye. Berbeda dengan namjadeul, muncul genangan air disekitarnya, bukan boneka hidup. Setelah menyemangati diri sendiri, Minhye mulai berkonsentrasi untuk membekukan air di sekitarnya. Tiga menit berlalu, tidak ada perubahan yang terjadi.

.           “Tch, tidak bisa apa-apa, tapi menghina orang lain,” sindir Taemin.

.           “Aneh.”

.           Kai yang mendengar bisikan Luhan bertanya, “Aneh? Aneh kenapa, hyung?”

.           “Konsentrasinya cukup tinggi. Tapi… aku tidak bisa merasakan kekuatannya.”

.           “Aku juga,” intrupsi Kris, “dia seperti tidak memiliki kekuatan.”

.           Luhan mulai menunjukkan wajah gelisahnya. “Coba, yeojadeul masuk ke kubah,” pintanya, ‘semoga dugaanku salah.

.           Newbie yeoja pun memasuki kubah sesuai permintaan Luhan. Semua guru terlihat memejamkan mata, berkonsenterasi. “Tidak mungkin,” celetuk mereka bersamaan.

.           “Kenapa kekuatan mereka tidak terasa? Padahal aura racun Sungra bisa dirasakan Lay hyung,” pikir Chen, bingung.

.           “Aku akan mencari tahu pokok permasalahannya.” Setelah izin ke kepala sekolah, Tao berlari menuju perpustakaan.

.           Kris berdiri tegap dengan wajah berwibawa –yang menyimpan sejuta pertanyaan di baliknya. “Kalian boleh istirahat. Kami akan memberitahu jika berhasil di temukan penyelesaiannya. Dewan guru dan senior, rapat darurat di perpustakaan, satu menit lagi dimulai. Sekian.”

.           Semua dewan guru –tanpa Suho– dan senior berbondong-bondong menuju perpustakaan dengan langkah tergopoh-gopoh. Sebelum benar-benar meninggalkan aula, Hyeona melirik ke Yoonhee seakan mengingatkan sesuatu. Setelah itu, Hyona menyusul rombongan di depannya.

.           “Ah iya, pergi ke atap dan temui Su…Su…Sushi? aish, Suho sonsengnim!” Yoonhee pun berjalan menuju atap sekolah, meninggalkan teman seangkatannya yang kebingungan.

***

Atap sekolah,

.           Ketika Yoonhee membuka pintu penghubung antara gedung sekolah dengan atap, matanya menangkap sosok namja berdiri memunggunginya. “Err, permisi. Anda, Suho sonsengnim?” Hening. Namja itu diam dan tidak bereaksi. Merasa diacuhkan, Yoonhee pun mencoba menggunakan kartu identitas yang ia dapat –ambil– tadi pagi. Tiga kali kartu digerakkan, tulisan-tulisan deskripsi mulai muncul.

Real name : Kim Joonmyun

Nickname : Suho

D.O.B : May 22, 1991

Element : Water

Position in school : Teacher

.           Tak, kartu itu lolos dari genggaman Yoonhee. Tangan yeoja itu bergetar, matanya melebar, seakan tak percaya apa yang baru ia baca. Ditatapnya sosok namja di hadapannya lekat-lekat, berharap bisa melihat langsung wajah dari namja tersebut.

.           Namja yang tidak lain adalah Suho, perlahan berbalik dan menunjukkan wajahnya. “Lama tidak bertemu, nae yeodongsaeng.”

.           Air mata Yoonhee tumpah saat itu juga. “J…Joonmyun oppa?”

-TBC-

HWEENG~ Lee Hyona is back! (R: So? -.-)

Jeongmal mianhe saya lama ga muncul. Soalnya tugas mulai numpuk lagi -.-

Semoga masih ada yg inget ff ini :’)

Oh iya, yang minta dipanjangin, ini udah dua kali lipat lebih panjang.

DUA KALI LIPAT

Seperti biasa, tidak akan dilanjut jika tidak ada yang minta

Sekian aja deh

-Lee Hyona / @Och1e_chan-

2 responses to “[Korea Fan Fiction] SHINee VS STARLIGHT (chapt. 4b) – SHINee & EXO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s